Categories
Berlin Uncategorized

“Free Your Stuff Berlin“, Berbagi Barang Secara Gratis ala Ibukota Jerman

Hidup di kota besar bukan berarti segalanya serta-merta diukur dengan uang. Grup Facebook “Free Your Stuff Berlin” dan 170.000 anggotanya memungkinkan siapa saja untuk memberikan dan mendapatkan apa saja secara gratis, dari makanan dan pakaian hingga sepeda dan mesin cuci. Tanpa syarat. Penulis menceritakan bagaimana hari-hari pertamanya di Berlin turut terbantu oleh grup ini.


Saat memutuskan untuk melanjutkan studi di Jerman, yang paling sering terpikirkan di benak saya adalah hal-hal semacam tiket pesawat, visa, mencari tempat tinggal, dan mendaftarkan diri di kantor penduduk setempat yang notabene membutuhkan niat dan kesabaran ekstra. Persiapan secara finansial saya juga kurang lebih didasarkan pada hal-hal tersebut, mengingat biaya hidup dasar di Jerman yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia. Tak terasa proses tersebut satu per satu saya lewati, sampai pada suatu hari saya duduk di lantai kamar saya di awal musim gugur dan menyadari sesuatu yang hilang dari pandangan: segar hijaunya tanaman yang dulunya adalah pemandangan standar di tanah air. Ini rumah saya yang baru, tapi saya belum merasa ada di ‘rumah’.

Salah satu ikon kota Berlin, Brandenburger Tor yang bersejarah, di tengah deretan pohon tanpa dedaunan (Foto pribadi: 27.03.2018)

Kesadaran itu ternyata cepat juga diikuti oleh kesadaran yang lain: harga tanaman disini cukup mahal, dan uang bulanan saya rasanya lebih baik dianggarkan untuk keperluan sehari-hari. Untungnya, apartemen saya sudah separuh terisi oleh barang-barang yang ditinggalkan penghuni sebelumnya sehingga tidak banyak perabotan yang harus saya beli. Meskipun begitu, masalah tanaman ini masih terngiang-ngiang di telinga saya, dan suatu hari saya membicarakannya dengan seorang teman yang merekomendasikan grup Facebook berjudul “Free Your Stuff Berlin” (Gratiskan Barangmu – Berlin). Grup ini adalah platform yang memungkinkan para anggotanya menawarkan barang yang tidak dipakainya lagi ke grup, atau sebaliknya, meminta barang yang ia butuhkan di grup, berbasis pemberian. Gratis, seratus persen. Yakinlah, kata teman saya, ini bukan salah dengar atau semacamnya.

Semua jenis barang, gratis untuk semua

Hal ini sama sekali baru bagi saya, terlebih karena apa yang biasanya saya pikirkan ketika membandingkan kota dengan desa adalah bahwa di kota, perputaran uangnya lebih banyak. Mungkin karena juga itu saya jadi lebih skeptis ketika mendengar apa yang teman saya utarakan. Meskipun begitu, saya mencoba masuk ke grup dan setelahnya kembali terkejut membaca apa-apa saja yang ditawarkan. Dari sekecil dot bayi hingga sebesar kitchen set, atau barang berharga semacam laptop hingga kostum Halloween bertema unicorn; sebutkan nama barangnya, pasti ada saja seseorang yang memberikan atau meminta.

Prosedurnya pun simpel. Jika seseorang ingin memberikan sesuatu, biasanya ia juga menyertakan deskripsi singkat, foto, dan distrik dimana ia tinggal. Jika kita menginginkan barang tersebut, cukup kirim pesan ke si pemilik dan kalau barang tersebut masih tersedia, kita datang dan mengambilnya di waktu yang disetujui. Begitu juga sebaliknya, jika kita mencari sesuatu, kita bisa menyampaikannya dalam postingan, dan orang-orang yang memiliki barang tersebut dan mau memberikannya akan menghubungi kita.

Ramainya grup berisi 170.000 orang

Di grup Free Your Stuff Berlin dengan 170.000 orang anggota, ramainya seperti sehari-hari di Kota Berlin (Foto pribadi: 28.03.2018)

Di dalam grup yang ada sejak April 2011 dan kini beranggotakan lebih dari 170.000 orang ini (sebagai perbandingan, penduduk Berlin saat ini 3,7 juta orang), ada lebih dari 150 postingan setiap harinya. Meskipun begitu, dinamika barang yang diposting dalam grup biasanya juga super cepat: dalam hitungan menit suatu barang yang baru saja diunggah bisa saja langsung terambil. Meskipun begitu, boleh dikatakan saya cukup sering mendapatkan keberuntungan dalam hal ini.

Kembali ke kisah tanaman dan saya, setelah mengumpulkan keberanian untuk membuat postingan, saya mendapatkan beberapa balasan dan kemudian berkelana keliling Berlin untuk mengambil tanaman dari pemilik-pemiliknya. Di hari lain saya juga mendapatkan barang-barang lainnya seperti pakaian, penanak nasi, kursi kerja, hingga printer standar kantoran. Semuanya sudah pernah dipakai seseorang sebelumnya, namun masih berfungsi dengan sangat baik.

Salah satu sudut di kamar penulis – dengan tanaman yang diperolehnya dari grup Free Your Stuff Berlin (Foto pribadi: 30.01.2020)

Interaksi yang humanis

Ketika mengambil barang-barang tersebut, saya tidak mengira akan mendapatkan respon yang hangat, terutama di tengah udara Berlin di akhir tahun yang semakin menusuk tulang. Terkadang saya diundang untuk masuk dan mengobrol sejenak sembari mencicipi teh. Melalui beberapa percakapan seperti ini, saya jadi mengetahui alasan sang pemilik memberikan barang-barangnya, seperti akan pindah rumah atau sebaliknya, baru saja pindah dan tidak punya cukup tempat, atau sekedar meneruskan kebaikan yang didapatkan melalui grup yang sama. Biasanya saya juga berusaha untuk memberikan sesuatu sebagai balasan, meskipun hanya ala kadarnya. Ada kalanya juga saya tidak membawa apa-apa selain tas kosong, namun mengingat prinsip yang berlaku di grup, hal ini sama sekali bukan masalah. Suatu hari, jika saya memiliki barang yang tidak digunakan lagi, sepertinya saya tahu kemana saya harus menuju.

Tren berbagi dan menggunakan kembali

Free Your Stuff Berlin memberikan alternatif di tengah konsumerisme. Foto diambil di sebuah kedai pizza di Berlin (Foto pribadi: 28.03.2018)

Sayangnya, tidak banyak informasi yang berhasil saya dapatkan terkait asal mula grup “Free Your Stuff”, yang saat ini sudah diadopsi di lebih dari 50 kota di Jerman dan berbagai kota besar lainnya di Eropa, diantaranya Copenhagen, Helsinki, Luxembourg City, dan Paris. Mungkin juga karena sifatnya yang non-formal; semacam gerakan akar rumput yang dijalankan bukan oleh beberapa orang tertentu saja, melainkan oleh semua anggotanya. Di tengah sistem kapitalis dan konsumerisme, gerakan ini seperti angin segar yang mempromosikan aktivitas berbagi dan memberi, sekaligus mendorong upaya reuse – menggunakan kembali, dan mengurangi sampah konsumsi yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Setiap hari di grup „Free Your Stuff Berlin“ rata-rata ada 1.600 anggota baru setiap bulannya, yang menunjukkan ketertarikan publik yang semakin tinggi terhadap alternatif dari beli-pakai-buang yang biasanya kita tahu.

Mau tidak mau, saya kembali teringat akan tanah air dan budaya saling berbagi dan membantu yang diwariskan leluhur kita, yang harapannya masih membekas di diri 260 juta manusia yang menyebut Indonesia sebagai rumahnya. Populasi yang besar ini bagaikan pisau yang bermata dua; di satu sisi, menimbulkan potensi sampah yang berlipat-lipat, namun di sisi lain potensi berbagi yang juga berlipat-lipat. Harapan saya amat besar pada potensi yang kedua, dan salah satu langkahnya mungkin bisa berbentuk “Free Your Stuff” edisi lokal dengan segala keunikannya. Kenapa tidak?

*Post ini adalah entri untuk Kompetisi Menulis Blog yang diadakan oleh Deutsche Welle Indonesia. Sayangnya nggak menang, tapi yang penting menulisnya dengan senang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *